• Bahasa Indonesia
  • English
  • Daftar Isi

    7Artpresso: Gerakan dari Studio Kerja Seni, dan Praktik Rekreasi

    A.Sudjud Dartanto, 
    Exhibition Writer, ArskalaScript Editor and Lecturer at FSR ISI Yogyakarta

    Ia adalah Noor Asif, perupa sekaligus pemilik dan pengelola kafe “Coffeewae” Yogyakarta yang berinisiatif untuk mengundang 7 perupa ternama dari Yogyakarta yaitu Ali “Vespa” Basarudin, Arya Pandjalu, Bayu Widodo, Budi “Bodhonk” Prakoso, Hendra "Blankon" Priyad- hani, Octo Cornelius Triandriatno, dan Stefanus Endry Pragusta.

    Mereka merespon alat penyeduh kopi bersisi 7 buatan Noor Asif menjadi karya seni, alat ini bernama “Blackan- swered” berbahan aluminium anti karat, “black” berarti kopi hitam, dan “answered” adalah jawaban, alat ini adalah alat espresso dan dapat menghasilkan pembusaan (frothing). Ada misi sosial dan simbolik dibalik pembuatan alat yang cara kerjanya tanpa bantuan energi listrik ini, yakni alat ini dapat dipergunakan oleh siapa saja, terutama bagi masyarakat pada daerah pelosok yang minus listrik. Dengan sisinya yang berjumlah pitu (7), Noor Asif berharap alat ini menjadi “pitulun- gan” (pertolongan) bagi siapa pun, dari barista hingga berbagai lapis masyarakat dan pecinta kopi.

    Di tengah praktik produksi karya seni rupa yang umumnya berorientasi untuk membuat karya seni, saya kira baru kali ini ada terobosan dari dunia minuman kopi, terutama dari alat produksi pemrosesan kopi menjadi alat  yang bukan sekadar sebagai alat pemroses, namun sekaligus menjadi karya seni rupa baru. Fenomena produksi ini menarik, pertama, pameran ini adalah sebuah anak tanda dari irisan dua dunia, dunia kuliner minuman kopi dan dunia seni rupa, dunia kuliner minuman kopi yang dekat dengan gaya hidup kopi berjumpa dengan dunia penciptaan karya seni rupa.

    Kedua, perjumpaan itu membuka berbagai irisan lain, yaitu bertemunya dunia desain produk dengan dunia “fine art” (seni murni) terutama pada seni tiga dimensional dalam pengertian seni patung, kriya dan desain modifikasi dan aransemen produk.

    Ketiga, dilihat dari hasil karya yang dibuat oleh para perupa ini menunjukkan gejala impersonifikasi lanjutan, setelah Noor Asif membuat model pertama, maka selanjutnya pemodelan berikut dilakukan oleh para perupa yang diundang. Praktik pemodelan lanjutan ini dialogis, oleh karena bentuk personifikasi yang tampak dari karakter dan tradisi penciptaan dari masing-masing perupa ini menunjukkan spirit kolaborasi.

    Kita bisa melihatnya dari setiap setiap karya yang dihasilkan dari studio kerja masing-mas- ing perupa. Bahan “Blackanswered” yang terbuat dari logam dengan konstruksi modern ini menunjukkan posisi materialnya dalam budaya industri, namun bukan industri manufaktur yang besar, namun industri mikro yang dibuat dengan terbatas dan istimewa. Konteks itu menjadi latar belakang umum pendekatan “assembling” (perakitan via media campur) dalam merespon “Blackanswered.” Ali Vespa merespon dengan bahan limbah industri sebagaimana kebiasaannya melaku- kan berbagai praktik modifikasi, Arya Pandjalu menerapkan inspirasi dari perempuan pekerja di balik perkebunan industri kopi melalui media keramik, Bayu Widodo berangkat dari cara “menggambar” (drawing) subjek dalam industri dan menerapkannya via konstruksi baru, Budi “Bodhonk” menggubah “Blackan- swered” dengan imaji konstruksi mesin sebagaimana kebiasaannya dalam melakukan kustom motor modern, Hendra Blangkon merespon “Blackanswered” dengan praktik “assembling” via objek temuan (found object) terutama dari hasil industri “toys” (mainan) dengan spirit dadaistik (filosofi membongkar), Octo meresponnya dengan filosofi perakitan berbahan kayu sebagaimana dalam kebiasaan kerjanya yang banyak menggu- nakan bahan kayu, dan Endry Pragusta menggubahnya dengan pendekatan estetika retrofuturis “steampunk,” dimana secara bentuk ia tertarik pada bentuk-bentuk “mini sculpture.” Dengan berbagai cara dan metode kerja itu kita bisa melihat lanjutan imajinasi, rekreasi bentuk, dan teknik yang baru dan menarik. Ini lah praktik personifikasi yang menarik dari alat espresso menjadi sebuah karya seni yang memiliki muatan filosofi dan seni.

    Konteks studio kerja ini bagi saya menarik, oleh karena ada satu benang merah umum yang tampak dari keseluruhan proses produksi ini di tengah praktik fabrikasi produk yang umumnya menghasilkan produk yang seragam dan bersifat masif. Hasil  produksi dari studio kerja perupa ini menunjukkan fenomena praktik individuasi, pada titik ini muncul ekspresi yang dihasilkan oleh para “pekerja seni” (art worker) ini.

    Ada permainan atas pergeseran posisi makna perupa yang umumnya bekerja dari alam kreasi yang otonom menjadi relasional. Relasionalitas itu terjadi manakala para perupa undangan merespon sebuah produk buatan Noor Asif sebagai pancingan awal. Dengan diundangnya para perupa di luar studio kerja Noor Asif untuk merespon “Blackanswered” menandakan karya produk “Blackanswered” ini bermakna sebagai “open text” (teks terbuka) dalam konteks pameran ini, ditangan para perupa undangan inilah karya “Blackanswered” akan diintertekstualkan. Inilah permainan yang seru dan mengasyikkan itu.

    Kita bisa membayangkan manakala karya yang sarat dengan makna simbolis itu akan direspon oleh para perupa dari masing-masing studio kerjanya. Bagian pertama, para perupa perlu mengetahui latar belakang fungsi alat produksi itu, hingga pada makna simbolis karya itu, bagian kedua, para perupa melihat hubungan antar unsur atau bagian dari “Blackanswered,” mengamati logika hubungan antar unsur dan memahami konstruksi secara keseluruhan, bagian ketiga, para perupa kemudian mengima- jinasikan atas respon apa yang hendak dibuat. Pada tahap itu, perupa menyadari akan makna penghargaan dalam praktik meluaskan bentuk, melebarkan makna simbolisnya, dengan tetap menjangkarkan fungsi utama dari “Blackan- swered” sebagai alat pemroses minuman kopi. Kita bisa melihat pada titik ini, ada negosiasi antara dan ruang terapan manakala ekspresi itu tidak menghilangkan fungsi utama “Blackan- swered.”

    Hasil dari tahapan itu adalah berbagai bentuk, teknik dan gagasan yang beragam dari karya ini di ruang pameran yang dibuat khusus oleh Noor Asif, ini tentu adalah sebuah kontribusi penting untuk perkembangan ruang pamer di Yogyakar- ta sebagai sebuah medan infrastrukur seni rupa. Dapat dikatakan, karya-karya dalam pameran ini memiliki nilai penting di tengah perkembangan seni rupa, desain dan kriya, arti penting itu pada spirit relasionalitasnya seperti yang dijelaskan diatas, bahwa pameran ini memiliki makna solidaritas simbolik dari “kelas pekerja seni” dalam konteks inisiatif seniman (artist initiative). Saya mengatakan ke forum pameran ini bahwa pameran ini sebetulnya punya potensi sebagai bentuk gerakan praktik studio perupa yang intens bekerja ruang kerja. Berbeda dengan studio lukis yang bekerja dengan tradisi penciptaan “image making,” bekerja di studio kerja karya tiga dimensional melibatkan praktik “ketukangan” dan “craftman- ship” dalam arti keterampilan.

    Pada praktik jenis ini ada latar belakang ideologis sesungguhnya, yakni pada makna kerja. Umumnya para perupa yang terlibat di sini tidak melibatkan para artisan, namun dikerjakan sendiri. Dari konteks ini, kita bisa memberi melihat “signature” yang kuat dari hasil karya dari para perupa ini. Pameran ini menunjukkan spirit gerakan studio kerja seni yang menarik dari para perupa di luar industri manufaktur. Para perupa yang terlibat dalam pameran ini adalah mereka yang intens dalam kerja studio dan peduli pada kerja-kerja emansi- pasi, poin ini yang saya kira juga menarik dalam pameran ini. Dalam “permainan” ini, tidak ada posisi tuan dan buruh, produk “Blackanswered” mengalami sebuah rekreasi bersama dengan segala daya dan cipta dari para perupanya. Mari kita nikmati.

    linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram