• Bahasa Indonesia
  • English
  • Sandyasana

    Titik Temu Kekaryaan dengan Lokalitas dan Sejarah

    Oleh: Tim Kurator Artspace WAE

    Sandyasana Art Exhibition adalah sebuah pameran seni yang digelar oleh Artspace WAE, sebuah platform seni yang mewadahi berbagai bentuk seni dari mana saja. Pameran seni ini hadir sebagai manifestasi dari namanya yaitu WAE yang merupakan singkatan dari “Welcoming Art Everywhere” yang merupakan perwujudan dari keterbukaan WAE dalam seni dari mana saja.

    Membuka diri akan seni dari manapun, Artspace WAE ingin memperkenalkan rumahnya yang terletak di Dusun Tempuran, Kelurahan Tamantirto. Dua toponimi dari rumah Artspace WAE ini akan dijadikan pondasi yang mendasari hadirnya pameran seni. Selayaknya perkenalan akan meninggalkan kesan yang berbeda untuk tiap orang, Artspace WAE melalui Sandyasana Art Exhibition mengundang beberapa seniman untuk merespon dan menyuarakan kembali melalui falsafah penamaan dusun dan kelurahan selaku rumahnya.

    Tempuran dapat diartikan sebagai pertemuan dua sungai. Dalam hal ini, Tempuran merupakan pertemuan aliran yang terdapat di dekat Artspace WAE antara Sungai Bedog dan Sungai Bayem. Selaras dengan falsafah WAE, “tempuran” atau pertemuan berbagai seniman dengan rumah Artspace WAE di Dusun Tempuran akan memberi nafas baru melalui bertemunya berbagai seni, media, serta kekaryaan seniman dalam merespon rumah Artspace WAE

    Tamantirto sendiri adalah toponimi dari daerah di Artspace WAE yang berarti taman air dan Tamantirto juga memiliki istilah lain yaitu alas ketoyan yang dalam bahasa Indonesia bermakna hutan air. Hal ini dikarenakan di kelurahan tersebut terdapat banyak mata air yang tersebar, salah satunya ada di dekat Artspace WAE yang bernama Belik Tempuran. Belik Tempuran dulunya menjadi salah satu sumber pengairan bagi Pesanggrahan Ambarbinangun, sebuah tempat peristirahatan dan pemandian yang dibangun pada masa Sultan HB VI-VII dan aktif digunakan sampai masa awal pemerintahan Sultan HB IX. Meski sumber mata air tersebut sudah tidak digunakan lagi untuk mengisi kolam pemandian di Pesanggrahan, namun mata air ini masih aktif digunakan warga. Jika diamati secara seksama, sisi Utara Artspace WAE terdapat sebuah tempat pemandian umum dengan dua drojogan (aliran air yang deras). Tempat ini biasa digunakan warga untuk mandi ataupun mencuci pakaian. Walaupun telah berganti fungsi, namun Belik Tempuran tetap menghidupi. Selain itu, di area Artspace WAE juga terdapat bekas bangunan lama yang menurut cerita merupakan tempat penyimpanan pompa air sekaligus mengkonfirmasi pemanfaatan sumber mata air di area Artspace WAE.

     

    Selayaknya seni memberi nyawa bagi manusia dalam bentuk makna, Yogyakarta pun dapat dirasa menjadi semacam “Tamantirto” atau “Taman Air” dimana seni lahir, mengalir, dan menghidupi dimanapun ia berada. Berbagai “belik” pun lahir dalam bentuk berbagai studio, komunitas, kolektif, serta pelaku seni. Semua turut menghidupi diri serta ekosistem yang serupa taman tempat segala kehidupan dapat tumbuh subur.

    Pameran ini memilih kata “Sandyasana”, yang berasal dari kata Jawa kuno "Sandya" berarti persatuan atau berkumpul dan "Sana" berarti tempat, sebagai perwujudan dari pameran ini sebagai "Titik Temu". Pameran ini adalah titik pertemuan antara berbagai seniman dan aliran seni yang berbeda, suatu ajang dimana karya seni lahir, mengalir, dan menghidupi lingkungan sekitarnya, mirip dengan air yang memenuhi taman.

    Dengan menyatukan berbagai seniman dan karya seni dengan rumahnya, Sandyasana Art Exhibition berfungsi sebagai titik temu, di mana gagasan dan inspirasi bertemu dan bertukar. Ini adalah perayaan dari keragaman dan keterbukaan seni, serta bentuk apresiasi akan tempat dan filosofi dari rumah Artspace WAE.

    Pameran ini didukung oleh Biennale Jogja melalui program Tangga Teparo
    Hak cipta dilindungi undang-undang. Tidak ada bagian dari publikasi ini yang boleh direproduksi tanpa izin sebelumnya dari artis pencipta karya dan Artspace Wae selaku penyelenggara acara.