• Bahasa Indonesia
  • English
  • Daftar Isi

    Sculpture occupies the same space as your body (Anish Kapoor)

    Sculpt, sebagai kata kerja terjemahan bahasa Inggris, berarti laku memahat maupun mengukir. Pun pada saat yang sama, Sculpt atau populer menjadi Sculpture, merujuk pada teknis proses membuat patung. Lantas, apakah yang in dan yang out dalam sculpt?

    Rupanya, para perupa dalam pameran ini meyakini bahwa proses kreasi patung adalah suatu daya desak cipta yang dialektis, setidaknya atas dua (dikotomik); Yakni antara yang dalam dan luar; yang kasar dan subtil, yang konvensional dan eksperimental, dan seterusnya.

    Melalui karya seni tiga dimensional pada pameran ini,sebagaimana umumnya pameran, tentunya menjadi cara bagi para perupa untuk mempresentasikan ide dan pemikiranya. Sekaliguas pada saat yang sama, menjadi pertemuan antar seniman seangkatan kuliah, maupun lintas lingkaran pertemanan, dan generasi.

    Sculpt in Sculpt Out menjadi bingkai presentasi 7 perupa: Agung Qurniawan, Bio Andaru, Diana P Harjanti, Misbahul Akrom, Noor Asif, Prisman Nazara, dan Galih Johar. Lima di antaranya merupakan perupa yang memiliki latar belakang studi dan kinerja patung. Sementara dua lainnya merupakan perupa dengan basis studi lain, namun aktif membuat karya-karya trimatra. Padanya 13 karya patung dan karya seni instalatif disodorkan kepada publik di Coffee WAE (Welcoming Art Everywhare), di Bantul, Yogyakarta. Lantas, bagaimana memahami ruang pamer dalam ruang yang lama dikenal sebagai ruang publik cafe?

    Sebenarnya ruang publik urban seperti cafe, yang juga menjadi ruang pamer; Telah cukup umum dikenal di negeri kita. Namun WAE Art space sengaja dibuat dengan maksud sebagai ruang pamer sekaligus melting pot Seniman, intelektual dan tentunya publik. Tampaknya Coffee WAE dan WAE Art Space memimpikan layaknya café Les Deux Magots di Perancis. Sanggupkah? Mari kita simak ke depannya!

    Yang jelas, pameran yang sedang anda lihat kali ini merupakan pameran kedua sejak pertama galeri ini dibuat. Jika sebelumnya menghadirkan beragam karya merespon alat manual espresso maker; Maka kini adalah karya-karya patung dengan berbagai pendekatan. Kesemuanya mewakili perspektif, konteks, cerapan perasaan, pemikiran hingga eksplorasi personal yang tidak selalu harus dibaca sebagai benang merah. Namun justru dapat kita biarkan mengemuka, menagih sesiapa untuk mengamati dan menerka maknanya secara manasuka.

    Akhirnya, Sculpt in Sculpt Out dapat dilihat dan dirangkum bukan hanya dalam wujud sosok dan bentuk karya-karya yang ada. Akan tetapi juga wujud konsep yang justru kehadirannya dapat berpeluang melampaui bentuk itu sendiri. Sebab patung terbukti terus berkembang dan berjumpa dengan pendekatan seni objek, sehingga memunculkan patung non-konvensional, mudahnya kita sebut trimatra. Inikah yang kita sebut sebagai 'melampaui patung?'

    Adhi Pandoyo dan Karen Hardini

    linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram